Pengertian dan Hukum Aqiqah

PENGERTIAN & HUKUM AQIQAH

Aqiqah merupakan salah satu tuntunan atau ajaran yang diajarkan dalam agama islam dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Banyak hikmah yang dapat kita petik dari pelaksanaan aqiqah. Secara etimologi atau asal bahasa, aqiqah berasal dari bahasa arab “Al-Aqiqah” yang berarti rambut yang tumbuh di atas kepala bayi. Sedangkan lebih spesifik lagi dari arti kata “Al-Aqqu” yang memiliki arti potong, atau dapat diartikan aqiqah merupakan pemotongan atau penyembelihan hewan yang mana pelaksaannya untuk menyambut kelahiran bayi. 

Hukum aqiqah sendiri diantara para ulama memiliki beberapa perbedaan pendapat. Akan tetapi sebagian besar ulama menyatakan bahwa aqiqah hukumnya sunnah. Ulama-ulama yang menyatakan bahwa aqiqah merupakan sunnah yakni Imam Malik bin Annas (dijelaskan dalam kitab al-muwaththa) dan Imam Syafi’i (dalam kitab al-umm). Imam Malik bin Annas dalam kitab tersebut menuturkan bahwa hakikatnya aqiqah hanyalah sunnah bukan kewajiban. Sama dengan Imam Malik bin Annas, Imam Syafi’i juga memberikan pernyataan dalam kitab Al-Umm bahwa disunnahkan aqiqah kepada mereka yang telah memiliki kewajiban nafkah (orang tua) kepada yang berhak (anak). Berikut ini beberapa hadist yang berhubungan dan menjadi dasar tuntunan aqiqah:

حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى قَالَ أَبُو دَاوُد وَيُسَمَّى أَصَحُّ كَذَا قَالَ سَلَّامُ بْنُ أَبِي مُطِيعٍ عَنْ قَتَادَةَ وَإِيَاسُ ابْنُ دَغْفَلٍ وَأَشْعَثُ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ وَيُسَمَّى وَرَوَاهُ أَشْعَثُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُسَمَّى

Artinya: 

Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Al Mutsanna], telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Adi], dari [Sa’id] dari [Qatadah] dari [Al Hasan] dari [Samurah bin Jundub] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuhnya, dicukur rambutnya dan diberi nama.” Abu Daud berkata; dan kata yusamma (diberi nama) adalah lebih benar. Demikianlah yang dikatakan [Sallam bin Abu Muthi’] dari [Qatadah] serta [Iyas bin Daghfal], dan [Asy’ats], dari [Al Hasan], ia berkata; dan diberi nama. Dan hadits tersebut diriwayatkan oleh Asy’ats dari Al Hasan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ia diberi nama.

WAKTU PELAKSANAAN AQIQAH

Dari hadist diatas kita mengetahui bahwasannya aqiqah dilakukan pada hari ketujuh setelah kelahiran bayi. Akan tetapi, kita juga perlu untuk mengetahui beberapa pendapat ulama mengenai waktu yang tepat untuk melaksanakan aqiqah. Ulama dengan Mahzab Syafi’i dan Hambali berpendapat bahwa jika aqiqah tetap boleh dilakukan baik sebelum maupun sesudah tujuh hari kelahiran bayi. Sekelompok Ulama dari mahzab hambali bahkan berpendapat jika aqiqah tidak khusus dilaksanakan disaat anak masih kecil saja karena tidak terdapat waktu yang dikhususkan  dalam melaksanakan Aqiqah. (Fiqih Islam Wa Adillatuhu, halaman 297)

HEWAN YANG DIGUNAKAN DALAM AQIQAH DAN JUMLAHNYA

Dalam salah satu hadist riwayat abu daud diriwayatkan bahwa rasulullah melakukan penyembelihan aqiqah dengan menggunakan hewan domba untuk Al Hasan dan Al Husain. Akan tetapi terdapat riwayat dalam hadist lain yang menjelaskan bahwa Rasulullah bersabda mengenai aqiqah menggunakan kambing. Berikut ini merupakan hadist yang menjelaskan hewan yang digunakan dalam pelaksanaan aqiqah:

Hadits Abu Daud nomor 2458

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنْ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا

Telah menceritakan kepada kami [Abu Ma’mar Abdullah bin ‘Amr], telah menceritakan kepada kami [Abdul Warits], telah menceritakan kepada kami [Ayyub] dari [Ikrimah] dari [Ibnu Abbas], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih aqiqah untuk Al Hasan dan Al Husain satu domba, satu domba.

Hadits An-Nasa’I Nomor 4144

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ عَطَاءٍ وَطَاوُسٍ وَمُجَاهِدٍ عَنْ أُمِّ كُرْزٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافَأَتَانِ وَفِي الْجَارِيَةِ شَاةٌ

Telah mengabarkan kepada kami [Ahmad bin Sulaiman], ia berkata; telah menceritakan kepada kami [‘Affan], ia berkata; telah menceritakan kepada kami [Hammad] dari [Qais bin Sa’d] dari [‘Atho`] dan [Thawus] serta [Mujahid] dari [Ummi Kurz] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai aqiqah seorang anak laki-laki: “Dua ekor kambing yang sama, sedang untuk seorang anak perempuan adalah seekor kambing.”

Dari kedua Hadits yang telah dipaparkan diatas, bahwasannya kita dapat menggunakan hewan yang digunakan untuk aqiqah baik domba maupun kambing. Sedangkan untuk jenis kelamin hewan aqiqah tidak dijelaskan jantan atau betina yang digunakan dalam aqiqah. 

Jumlah hewan yang akan digunakan seperti yang terdapat pada hadits riwayat An-Nasai nomor 4144, bahwa jika yang diaqiqah merupakan anak atau bayi laki-laki kambing atau domba berjumlah dua ekor dan untuk perempuan berjumlah satu ekor. Hadist ini merupakan hadits yang digunakan oleh ulama dengan mahzab Syafi’i dan Hambali. Sementara itu, mahzab Maliki menggunakan hadits riwayat Abu Daud nomor 2458 yang mana sebagai dasar pendapat bahwa aqiqah baik laki-laki maupun perempuan menggunakan satu ekor kambing atau domba seperti pada saat Rasulullah SAW meng-aqiqah kedua putranya, yakni Hasan dan Husain.

Wallahu’alam